Keluarga Sosrosugondo part 2

Eyang putriku biasa kami panggil “Budhe”. Beliau adalah orang yang aktif sekali di gereja, dan sampai masa tuanya pun ia masih mengurus gilingan padi milik keluarga kami. Setiap hari dia pergi kerja ke penggilingan padi itu dengan naik becak langganan keluarga kami. berangkat pagi hari dan baru pulang sore hari. Aku masih ingat waktu kecil aku dan adikku sering sekali ditimbang di timbangan beras😀

Waktu aku masih dititipkan di rumah nenekku (kami tinggal satu kota), beliau selalu menyediakan  2 sebungkus Taro rasa seaweed, satu untukku dan satu untuk adikku. jadi tiap kami pulang sekolah, mbak yang bantuin nenekku selalu kasih kami sebungkus Taro masing2. Nenekku paling suka memasakkan kami semur ayam. enak sekali, sampe sekarang sering minta nyokap untuk buatin.

Nenekku juga pandai bikin Cross stitch dan sulam menyulam, telaten sekali. Di rumah masing2 anaknya klo ada Cross stitch yang besar di pajang itulah hasil karya nenekku ini. Di rumah nyokap ada seperangkat taplak dan pajangan yang dibikin oleh nenekku ini.

Dulu setiap minggu aku atau adikku bergiliran nginap di rumah nenekku, apalagi setelah kakekku meninggal. Dia selalu mendongeng dan klo mau bobo pasti dielus2 punggungnya.

Beranjak dewasa aku dan adikku jarang sekali menengok nenekku karna kami udah mulai sibuk dengan teman2 kami. Tapi tiap hari minggu nenekku datang ke rumah naik becak langganannya dan membawakan masing2 sebatang besar silverqueen.

Nenekku rajin sekali ke gereja, aku kadang suka menemaninya. dan dia selalu duduk di bangku yang sama selama bertahun2 di gereja itu. Nenekku ini galak sekali, tapi dia baik. Dia model nenek2 yang masih memakai kebaya dan kain. Nenekku meninggal setelah dia menderita sakit yang panjang.

Pernah suatu kali aku bermimpi tentangnya, dia mengajakku ke gereja. Rupanya semenjak SMA aku selalu  menolak pergi menemaninya ke Gereja. Kadang penyesalan ada seh kenapa aku dulu gak menemaninya padahal dia sayang sekali padaku. Waktu beberapa saat sebelum dia meninggal, adalah beberapa saat sebelum aku meninggalkan rumah untuk meneruskan kuliah. Beliau sempat membisikkan pesannya untukku, “Belajar yang rajin ya Lin, hormati Bapak dan Ibu, Jaga adikmu” tak berapa lama ia menghembuskan napas terakhirnya.

The End

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: