Ciko, the dog

Ciko

Nama : Ciko

Ras    : Unknown

Lahir  : tahun 2001

Hobi  : mengejar kucing dan ayam, tidur di kolong kursi

Fave  : tempe goreng bikinan nyokap yang msh hangat pake nasi kecap (ini gw juga doyan ^^) dan biskuat (biar sekuat macan?)

Paling takut : klo ada orang pegang kamera, kain pel

Anjing ini pemberian seorang teman. Dulu waktu dikasih anjing ini dalam kondisi mengenaskan dan masih berumur 1 bulan. Boncel2 dan trauma sama orang, mungkin dulunya sering dipukul. Beberapa lama saat dibawa ke rumah badannya gemetar terus, dan selalu sembunyi di bawah lemari dapur, tak berani keluar. Tapi nyokap dan alm adikku telaten banget ngurusinnya. Kita ajak main2 dan akhirnya dia gak takut lagi keluar dari persembunyiannya.

Oh ya nama Ciko ini juga semena2 diberikan oleh nyokap. Jadi ceritanya dulu aku dan alm adikku pengen banget kasih nama anjing yang keren, kayak di film2 luar negeri. Kita sampai semaleman cari bareng2 nama anjing yang paling keren. Eh nyokap udah mulai panggil anjing itu dengan nama ciko, akhirnya ketika aku dan alm adikku menemukan nama yang keren, kita panggil2 dia gak mau nengok huhu ^^.

Dulu bokap paling gak suka klo kita pelihara binatang apalagi yang berbulu, karna dia alergi dengan bulu. Tapi karna aku dan alm adikku memaksa dan didukung nyokap, akhirnya bokap menyerah. Awalnya bokap  gak pernah mau tuh pegang, cuma ngeliatin dari jauh. Tapi ya dasar anjing kecil kan memang lucu, pelan2 bokap mulai deket2, pegang2 akhirnya sampai sekarang bokap lah yang bertugas mandiin Ciko. Oh ya alerginya menguap entah kemana.

Beberapa waktu yang lalu, Ciko sakit karna mungkin makan tulang. Pfhiuh nyokap sampai panggil dokter hewan ke rumah (di tempat aku tinggal profesi ini jarang sekali). Kebetulan dokter ini waktu SMA adalah mantan murid bokap. Akhirnya sembuh, meski sempet gak bisa jalan dan hanya tiduran sambil mengeluarkan suara yang memelas. Akhirnya kita gak pernah kasih Ciko makan tulang lagi.

Waktu aku tahu Ciko sakit, sedih juga rasanya. Meski selama ini aku tak pernah memeliharanya, karna wkt kita pelihara Ciko aku sudah kuliah di luar kota. Jadi hanya beberapa waktu saat pulang saja aku ketemu dan main dengannya. Bagiku Ciko itu seperti simbol hubungan aku dan alm adikku, dulu kami jadi begitu dekat karna sharing memelihara Ciko, dan bermain kejar2an bareng. Setelah adikku meninggal dan aku memutuskan kerja di Jakarta, hanya Ciko lah teman nyokap dan bokap di rumah.

Ada satu cerita sedih yang selalu aku ingat. Saat adikku meninggal semua orang larut dengan kesedihan masing2, selama 3 hari kami gak melihat Ciko. Akhirnya Ciko ditemukan oleh tanteku, dia berguling dibawah tempat tidur adikku. 3 hari tanpa makan dan tak keluar kamar sekalipun. Dia mau keluar dari bawah tempat tidur setelah nyokap memanggil2 dia. Selama 40 hari aku tinggal di rumah, menemani orangtuaku sekaligus masih terpukul karna kehilangan adikku yang mendadak. Selama 40 hari itulah tiap pagi Ciko masuk ke kamar adikku, lalu mendengking pelan dan berlalu. (Ciko punya kebiasaan, tiap pagi dia selalu bangunin orang di rumah dengan cara masuk ke kamar kita masing2 dan menggaruk2 kaki ato tanggan kami)

Alm adikku selalu pulang sekolah dengan naik motor. Setelah kecelakaan itu, bokap menjual motor itu, karna dia tak ingin melihatnya lagi. Kebetulan tetanggaku punya motor yang sama dengan suara yang sama. Setiap motor itu lewat depan rumah kami, Ciko langsung berlari kedepan rumah, celingukan, mungkin mencari gerangan adikku. Saat dia tidak menemuinya maka dia akn berbalik dengan tertunduk dan suara memelasnya itu. Aku sampai menangis melihat ini.Sampai hampir 1 tahun Ciko selalu melakukan hal itu jika dia mendengan deru suara motor yang sama dengan adikku. samapi sekarang pun kadang dia masih terjengit telinganya jika mendengarnya

Kejadian kedua yang membuat aku juga sedih, adalah saat setelah 40 hari meninggalnya adikku, nyokap minta mbak yang bekerja pada nyokap untuk mengangkat seprei dan sarung bantal guling dari kamar tidur adikku. Saat si mbak mau bawa ke cucian, kan di taruh di lantai dulu, tiba2 Ciko datang dan langsung berguling2 di atas seprei itu seakan2 sedang bermain dengan alm adikku, mungkin karna aroma tubuhnya masih tertinggal di situ. Akhirnya si mbak biarin Ciko main bersama seprei itu sampai puas dan dia melihatnya sambil terisak. Kami semua, bahkan Ciko pun merindukannya.

That’s why…aku sayang sekali anjing ini ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: